Tulisan Yang Tidak Cocok Dibaca Oleh Kamu Yang Hidupnya Sudah Merasa Superior Sejak Lahir

Monolegend Jul 21, 2020

Terlihat seorang lelaki muda keluar dari pintu kereta menuju peron stasiun. Duduklah ia di sana, minum air putih, beristirahat dari perjalanan berjam-jam yang ia tempuh dari timur pulau jawa. Di sampingnya, ada seorang bapak-bapak yang kurang lebih berusia antara 35–40 an. Mengobrol mereka, membicarakan hal yang pada umumnya dibicarakan dengan orang yang baru dikenal. Seperti dari mana dan hendak kemana. Dan terkagetlah lelaki tersebut, ketika ia ditanya dari mana lalu menjawab “Surabaya”, seketika balasan yang ia dapatkan adalah “Ohh, dari jawak yak?”.

“Lho cok, kok jawak? Nyambek ta?” bergumam dalam hati karena bingung dengan peristiwa yang baru pertama kali ia jumpai.

Di dalam pikirannya, ia bertanya-tanya. Apakah selama ini nilai pelajaran geografinya sangatlah buruk? Apakah selama ini nilai sejarah dan PPKNnya sangat buruk? Apakah rumus Aljabar seandainya ditemukan di kota Malang bisa jadi namanya akan berganti menjadi rumus Aljatim? Entahlah, hehe. Yang pasti, perasaan real-time yang ia rasakan saat itu bercampur, mulai dari sedikit sakit hati, hingga bingung juga. Tidak ada rasa bahagia sama sekali di sana.

Kemudian, bergegaslah ia keluar stasiun, menuju ke tempat temannya. Sekitar 4 jam perjalanan dari ibukota menggunakan KRL. Sampailah ia di sana, menaruh barang bawaan yang ia bawa jauh dari timur. Berbincang mengenai hal ini dan itu.

Selang beberapa jam, ada teman-teman lain yang mengajak ia untuk keluar bermain, kebetulan waktu itu ia bermain di warnet yang jaraknya seharusnya bisa ditempuh cuman 10–15 menit, tetapi menjadi 1 jam lebih karena macet yang sangat mengerikan. Sesampainya di sana, ia bertemu teman-temannya. Mengobrol lah mereka, dan kemudian ada salah satu teman yang protes akan bahasa yang digunakan oleh lelaki Surabaya ini.

“Kek homo aja lo, sesama laki manggil aku kamu”.

Seketika lelaki ini langsung kaget dan bingung, di mana salahnya? Lalu, karena ia merasa ini adalah kota orang lain, bukan tempat yang selayaknya baginya. Ia pun mencoba mengikuti budaya yang ada di sana. Menggunakan “lo gue” sebagai bahasa utama untuk berbicara dengan teman-teman superiornya. Seketika sekelompok manusia superior itu tertawa terbahak-bahak, mereka tertawa dan mengejek logat lelaki ini, mereka bilang ia tak pantas untuk menggunakan bahasa superior ini. Logat medoknya keterlaluan, terlalu kental sampai mereka tidak peduli bahwa lelaki tersebut mencoba untuk agar bisa diterima di sana. Dengan tawanya yang sangat keras, mereka membuat lelaki ini ikut tertawa juga, bukan karena senang, melainkan untuk menahan sakit hati di hadapan teman-teman superiornya.

“Oala jancok opo se karepe? Aku kamu jare homo, lo gue jare gak cocok”, protes di dalam hati yang sampai sekarang terngiang-ngiang di kepalanya.

Selepas ia kembali dari ibukota, ia pun masih memikirkan apa yang sebenarnya ia alami, apakah ini bentuk rasis? Ataukah bentuk deskriminasi? Ataukah mereka memaksakan orang lain untuk mengikuti budaya mereka yang ujung-ujungnya pun dihina juga. Semoga nanti setelah pandemi korona ini berakhir, ada jawaban yang bisa membuatnya lega. Ya, meskipun ujung-ujungnya menyakitkan juga. Karena sejujurnya, saya belom pernah mendengar kami, sebagai orang Jawa, menyebutkan nama daerah lain dengan nama sukunya. Seperti, ketika kita menyebutkan semisal Bandung, ya kita menyebutnya Bandung, bukan Sunda, atau Jakarta, ya kita nyebutnya Jakarta, bukan Betawi, dan lain sebagainya. Dan kisah lelaki di atas adalah kisah saya sendiri. Tidak dibuat-buat, ya mungkin ada sedikit penambahan olah kata agar tidak membosankan saja.

Memang kita, dari Sabang sampai Merauke memiliki banyak perbedaan mengenai bahasa, budaya, dan lain sebagainya. Tetapi itu semua bisa diselesaikan dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Dan setau saya, aku-kamu juga merupakan bagian resmi dari Bahasa Indonesia yang mana saya juga tidak tau kenapa hal tersebut bisa menjadi — sebuah hal yang salah untuk digunakan sebagai jembatan komunikasi antar warga negara Indonesia.

Dampak yang saya alami seusai peristiwa tersebut ya bisa dibilang negatif ya, dampak yang pertama kali dirasakan dan hingga saat ini tidak hilang, maaf hehe. Sampai sekarang pun, ketika ada teman “jawak” saya yang berbicara menggunakan logat “lo gue” langsung seketika saya menjawabnya dengan ketus. Seolah tidak ingin mendengarkan bahasa tersebut di telinga saya. Terlebih, ketika saya berselancar di dunia Twitter, banyak orang-orang di sana tertawa bahkan menganggap hal tersebut sangatlah lucu ketika ada sebuah akun yang mencuitkan tentang candaan betapa rendahnya orang Jawa. Tetapi, perlahan mulai kesini saya semakin lebih bisa mengerti kenapa mereka begitu. Karena bisa jadi 90% tontonan yang kita lihat di media memang pada umumnya isinya tak jauh-jauh dari budaya ibukota. Pantaslah mereka membanggakan hal tersebut dan menganggap hal lain yang tidak sesuai, merupakan budaya kuno ataupun ieuch banget dech lo.

Beruntung, sekarang teman-temanku saat ini banyak yang bermuatan positif. Seperti sebuah situs pengalih ketika membuka halaman yang diblokir pemerintah di internet. Mereka menghargai bahasa, kelakuan, dan budaya yang saya amal-kan. Ciee, seperti sedang berdakwah saja antum. Belom pernah mereka bertanya apa yang sedang terjadi di “jawak”. Mereka semua tau kalau saya dari Surabaya, tentu saja mereka langsung menyebutkan nama kota kelahiranku tersebut.

Satu hal yang kusesali, harusnya mereka semua yang tadinya menghina logat dan budayaku. Aku balas saja dengan cacian saat itu juga. Dan mungkin nanti bila hal ini terjadi (lagi). Tentu saja, aku tak akan tinggal diam seperti sedia kala. Aku akan membuat mereka melihat, membaca, dan memberi taunya. Melalui aplikasi Google Map sepertinya sudah cukup. Bahwa tanah yang sedang mereka injak saat ini bernama pulau Jawa. Terlepas dari apa motif sebenarnya mereka mengulang pertanyaan “Dari jawak” dan sebagainya. Entah karena suku, geografi, ataupun pemikiran rata-rata orang ibukota.

Terima kasih ibukota. Karenamu, saya jadi tahu bagaimana rasanya pergi kesana untuk pertama kali ataupun berulang kali. Toh, tidak ada bedanya, perlakuan superior yang kalian perlihatkan akan selalu seperti itu. Sampai nanti, mungkin sampai bangsa Lemuria kembali lagi ke bumi. Membangun ulang peradaban yang ada di bumi dan mengulanginya lagi hingga terlihat kurang lebih sama seperti saat ini.

Yauda, itu uneg-uneg saya, selamat bermalam minggu yang di rumah saja. Karena kita juga harus tetap mempertahankan umat manusia agar nanti ada cerita tentang manusia superior lain di kehidupan berikutnya. Lo ngentot.

Royyan Wijaya

Tidurnya siang.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.