Subscriber kedua

Pernah gak sih kalian merasa sudah menunggu suatu hal, di suatu tempat. Eh, ternyata kalian salah tempat. Seperti menunggu kedatangan kereta api jurusan Siberia tapi nunggunya di lobi hotel Korea Utara misalnya(?). Oke, buang jauh-jauh pikiran kalian atau bahkan membayangkan contoh yg sudah saya sampaikan sebelumnya. Yg pasti, di tulisan kali ini. Saya mau bercerita tentang apa saja rasa senang yg saya dapat akhir-akhir ini. Salah satunya adalah memiliki 2 subscribers yg mana berarti ada 2 orang yg merelakan inbox emailnya diisi oleh pesan-pesan yg berisi link yg menuju ke tulisanku nantinya. Sangat mengherankan bukan? Tidak juga, karena subscriber newsletter saya yg pertama adalah saya sendiri, dan yg kedua adalah Aldo Picaso, teman yg kuceritakan di sini

Untitled (2).png
Sengaja disensor, biar keliatan profesional. Sebuah seni tentang kesederhanaan, alias cuman mereka yg mau merelakan inboxnya diisi dengan tulisanku.

Tapi jangan salah, meski cuman berisi 2 orang, yg satu orang asli, meski teman saya, Pak Aldo subscribe bukan karena saya yg nyuruh, tapi karena dia tahu emailnya yg dipake buat newsletter adalah email pasif. Untuk Pak Aldo, misal baca tulisan ini, tolong iyakan saja statement saya, agar senang dan tidak merasa sia-sia nongkrong di kafe sembari nunggu jadwal keberangkatan hehe.

Dengan bermodalkan 2 subscribers, saya merasa senang sekali. Selain karena ini hal baru buat saya, saya juga merasa ada yg meluangkan waktunya membaca tulisan yg mana sebenarnya hobi lain saya dikala gabut hehe.

Kalo berbicara tentang kesenangan, mungkin tiap orang memiliki garis melingkar di sekitar tubuhnya. Entah jauh atau pendek, garis itu akan selalu ada di sana. Bawaan dari lahir, seperti rasa lapar ketika melewati toko roti. Atau belek pada mata ketika bangun tidur.

Mengenai rasa senang, 2 subscribers pada kotak newsletterku cukup membuatku bersemangat, ingin menulis judul lain di tiap harinya. Mungkin bagi orang lain berbeda. Ada yg merasa senang ketika berhasil membuang sampah pada tempatnya, ada yg merasa senang dengan melihat orang lain baku hantam, mungkin ada juga yg merasa senang dengan membenci orang lain. Siapa yg bisa mengira? Yg pasti, selama hal tersebut bersifat personal, saya rasa akan baik-baik saja. Asal tidak disampaikan secara publik atau bahkan ketika UNESCO sedang mengadakan kongres hehe.

Dapatkan bacotan yg lebih rutin dari bensin kendaraan kamu

atau

Kirimkan sebuah pesan, untuk subjek, isi saja semau kamu

 
2
Kudos
 
2
Kudos

Now read this

Menunggu hujan sama halnya seperti menunggu air hujan

Photo by Ajiwandi Sekitar pukul pagi, saat itu aku sedang tertidur. Terdengar bunyi smartphoneku. Eh bukan terdengar deng, melainkan bergetar, karena aku mensilent hpku sepanjang waktu. Bukan apa-apa, melainkan karena notif dari grup... Continue →