Setelah pergi, nyesek adalah kata yg berada tepat satu level di bawahnya

photo-1485842612006-6c50e8bf2576.jpeg

Hal ini bermula barusan saja, ketika aku kembali ke kota kelahiranku, Surabaya. Tempat di mana aku mengenal dan sangat menyukai rujak cingur. Kenapa aku bisa kembali? Ya, karena aku telah melakukan perjalanan ke ibukota untuk urusan pekerjaan. Lalu setelahnya, aku ke Cilegon untuk menemui pacarku, Vivi, wanita yg sangat cantik dan sangat aku cintai.

5 hari di Cilegon, menurutku memiliki perasaan yg sama dengan jam istirahat ketika bekerja. 1 jam di siang hari, terasa sangat singkat, namun sangat berarti. Seperti itulah kira-kira gambaran yg aku rasakan ketika berada di sana. Waktu berlalu begitu cepat, seperti sedang berjalan di lintasan sirkuit F1. Penontonnya adalah waktu. Dan kami berdua yg berada di lintasan.

Ketika pertama kalinya tiba di sana. Perasaan itu muncul, perasaan yg gembira, kangen, degdegan. Mereka selalu datang bersamaan, seperti geng motor yg sedang konvoi. Saat itu, perjalanan dimulai dari sekitar jam 9 pagi. Aku berangkat dari area Mall Kelapa Gading 2, tempat di mana aku akan menaiki bus Damri yg membawaku ke bandara Soekarno-Hatta. Sekitar 1 jam lamanya, akhirnya aku tiba di sana. Terminal 3, dan langsung saja aku menuju ke halte bandara. Memesan tiket bus menuju Cilegon dengan mesin pemesanan mandiri yg tersedia di sana. Setelah itu, membayar tiketnya dong, ya masa gak bayar, kamu baca tulisan ini aja bayar kok. Kecuali kamu bacanya menggunakan kekuatan wifi tetanggamu hehe. 65 ribu, harga tiket dari bandara menuju ke Merak. Terminal akhir dari bus yg akan ku tumpangi nantinya. Setelah sampai kurang lebih 3 jam di sana, yg mana normalnya sekitar 2 jam an. Macet adalah penyebab utama molornya waktu perjalanan menuju kesana. Rasa capek tentu saja sudah bersamaku sejak pertama menginjakkan kaki ke dalam bus Damri arah Merak. Tapi rasa senang terlebih dahulu datang, jauh sebelum perjalanan ke Jakarta di mulai.

Kira-kira sekitar jam 3 sore aku sampai di sana. Sengaja aku tidak langsung pergi ke rumah Vivi. Karena aku ingin bertemu Vivi dahulu sebelom anggota keluarga yg lain. Jadi lah aku tanya ke dia, enaknya aku nunggu di mana. Dermaga 6, tempat orang-orang akan menyebrang ke Lampung menggunakan kapal eksekutif ini adalah tempat di mana aku menghabiskan waktu menunggu sayangku, Vivi.

“Sayang, jangan pulang malem-malem ya?”, pesanku kepada Vivi waktu itu.

“Gatau ge, semoga aja”, balasnya.

Sedikit sedih, tapi aku tetap senang, karena udah nyampe di sana. Kala itu, aku habiskan waktuku di kafe yg berada di dalam Dermaga 6. Sekitar 1 jam setengah di sana. Dan setelahnya, aku menunggu Vivi di depan pintu utama Dermaga 6. Cukup lama, kurang lebih 1 jam an di sana dan Vivi belom juga hadir menemuiku. Ku putuskan untuk berak dulu, karena berak adalah tempat di mana ketika kamu melamun tentang bagaimana cara menjahit baju, bisa bergeser jauh menjadi bagaimana alien kalo bikin rendang. Apakah nanti keasinan? Atau terlalu hambar. Kita tunggu saja nanti.

“Aku ke berak dulu ya sayang”, kataku ke Vivi melalui aplikasi pesan Telegram.

“Iya, sok berak”, sahutnya.

Setelah selesai, aku keluar dari pintu toilet. Berjalan menuju keluar dari ruangan. Eh, pas jalan, reflek. Berhenti dan menengok ke arah kanan. Yeyy! Ada Vivi di sini, sedang sembunyi. Memberikanku surprise. Saat itu kami ingin langsung berpelukan, tapi apadaya ada balita di belakang kami. Karena ini Indonesia, ya kami gajadi pelukan. Pegangan tangan aja hehe.

Setelahnya, berjalan kami keluar. Lewat pintu belakang karena motor Vivi diparkir di sana. Vivi yg bonceng, aku diem di belakang sambil pegangin koper. Ketawa ketiwi sampe gigi menjadi kering karena kencangnya angin di perjalanan.

Sesampainya di rumah, kami disambut oleh Papa yg kala itu sedang menonton TV di ruang tengah. Mama belom ada saat itu karena sedang mengikuti pengajian rutin. Tapi sekitar 20 menit kemudian, Mama datang. Bawa berkat dan aku pun langsung salim sembari mengobrol menanyakan kabar calon mertuaku ini. Setelahnya kami menonton TV bersama, sekitar 30-40 menit kemudian. Mereka pamit untuk tidur karena sudah malam dan mulai mengantuk. Aku pun masih menonton TV sebentar lagi sembari mengobrol dengan Vivi.

Ketika menuju kamar tengah untuk mengistirahatkan badan, ku lihat sudah disiapkan di sana. Spreinya sudah tertata rapi beserta bantalnya juga. Aku pun lekas beristirahat. Memejamkan mataku agar nanti pagi menjadi segar. Karena esoknya ku harus bekerja juga.

Sebelom terlelap, sempat aku melihat ke arah kiriku, di sana terdapat wanita tercantik yg nantinya akan menjadi istriku. Wanita yg memiliki cita-cita menjadi pilot ketika duduk di bangku SMK ini juga terlihat sangat mengantuk. Mata sipit itu tidak terlihat lagi, sudah berganti menjadi super sipit alias merem. Karena ia sudah lelah dan sepertinya belum terlelap juga. Iseng aku toel pipinya, mainin rambutnya. Dan lama-lama aku tertidur juga.

Pagi menjelang, saatnya bangun untuk melanjutkan aktifitas kami masing-masing. Tentu saja sarapan tidak lupa kami lakukan. Hal yg rutin kami lakukan di pagi hari ketika bersama ataupun tidak ini selalu menjadi tempat kami berinteraksi satu sama lain. Antara aku, Vivi, dan calon mertuaku. Semuanya lebih sering dan mengalir di kala saat makan tiba. Tidak ada momen pokerface atau hening di sana. Karena ketika topik tidak tersambung, kalian masih bisa mengunyah makanan yg tersedia saat itu. Seperti mendapat kebebasan dalam berbicara dengan cara yg santuy.

Setelah selesai makan, aku mengantar Vivi untuk berangkat menuju ke tempat kerjanya. Dan setelahnya, aku juga bekerja. Di Dermaga 6, di sebuah kafe di sana yg aku lupa namanya. Ku mulai mengerjakan pekerjaanku sebagai disainer grafis. Sekitar 2 jam lamanya. Waktu makan pun tiba. Aku turun ke bawah. Untuk menemui pacarku. Kami akan segera makan siang bersama di KFC Dermaga 6.

Ketika makan pun, aku bilang padanya kalo aku sepertinya setelah ini akan ke rumah aja. Bekerja dari sana. Kurang nyaman rasanya kafe di sini. Vivi pun mengiyakan dan lalu kami berdua memesan ojek online. Kebetulan aplikasi favorit kami berbeda. Aku menggunakan Gojek dan Vivi menggunakan Grab. Tapi kami berdua bisa sampai ke tujuan dengan selamat.

5 jam berlalu, jam kerjaku usai. Menjemput pacarku pulang dari tempat kerjanya. Menuju rumah. Bertemu dengan aku, dan keluarganya. Dan kami tidak kemana-mana malam itu. Mengobrol satu sama lain dan mengakrabkan diri. Esok harinya, Sabtu. Seperti biasa, Vivi pun izin bolos lagi, astafirullah uhtiku ini memang sangat pengertian wkwk.

Pagi itu, kami mengorbol tentang rencana kami akan kemana hari sabtu. Tercetuslah kembali ke CCM. Berangkatlah kami jam 2 siang. Di tengah terik matahari, di antara kendaraan lain. Aroma debu dari sekeliling pun tak lupa menyapa kami. Terkadang mereka mencoba menyusup di antara sela-sela pupil dan sedikit mengganggu penglihatan.

Hey, kami sudah tiba, di tempat parkiran CCM. Langsung kami berjalan-jalan di dalamnya. Tujuan kami waktu itu memang untuk membelikan kado ulang tahun buat Papa. Tapi kebetulan lapar mengganggu kami dan memutuskan untuk mencari tempat makan waktu itu.
Bertemulah kami dengan restoran bakar-bakar sendiri. Yg mana, aku dan Vivi belom pernah mencobanya. Jamur, daging, sosis, dan lain sebagainya kami ambil saja. Seperti orang kalap yg sedang bergembira. Ya, karena kami pikir ini pengalaman pertama, seenggaknya nanti tau dan bisa ngasih tau ke orang lain juga tentang pengalaman ini.

photo_2019-09-01_19-06-59.jpg
Foto di atas adalah salah satu acara wajib ketika kami selesai makan.

Setelahnya, kami pun berbelanja. Sandal menjadi pilihan terbaik untuk sebuah kado ulang tahun waktu itu menurut kami berdua. Karena kalo Porsche, kami belom sanggup membelinya untuk saat ini. Setelahnya, kami kembali pulang. Beristirahat dan menyiapkan energi untuk perjalanan esok pagi ke tempat yg lain lagi.

Minggu itu, kami melanjutkan jalan-jalan kami. Kali ini kami menuju kafe di Cilegon. Dan di sana aku sedikit memberikan surprise kepada Vivi. Ya, meski dia juga udah tau surprisenya apaan. Karena aku tipe orang yg selalu gagal membuat surprise, dan Vivi menyadari hal ini. Kala itu, aku memberikan bingkisan kado tentang hari jadi kami yg satu tahun. Hari di mana aku pertama kali mengenalnya lewat Twitter. Kalian bisa baca kisahnya di sini.

EDYJiSNUcAAPkd-.jpeg
Semoga kita bersama-sama terus ya sayang.

Lalu, tibalah hari di mana aku merasa bersedih, hari di mana aku merasa tidak ingin kemana-mana. Hari itu adalah hari ketika aku harus kembali ke tempat lahirku di Surabaya. Hari Senin, 2 September 2019, jam 7 malam. Aku meninggalkan kekasihku, tentu saja nanti aku kembali lagi kesini. Tapi rasa sesak di dada memang tak bisa dipungkiri selalu ada di sana. Kedua kaki ini rasanya ingin sekali putar balik dengan kuat. Tapi hati menggandengnya lebih kuat untuk tidak berpaling.

“Hey, nanti kamu akan kesini lagi, jangan terlalu sedih”, berbicara sel otak di sebelah utara kepadaku.

“Udah balik aja, jangan tinggalin pacarmu. Apa kamu tega liat dia sedih lagi satu jam setelah kamu pergi?”, kali ini hati mengungkapkan apa yg ia mau.

Screenshot at Sep 07 19-53-12.png
Foto dari dalam bus yg menuju ke arah bandara.

Aku merasa lebih nyesek dari biasanya, bahkan ketika menuliskan tulisan ini pun rasa nyesek itu kembali lagi. Menyapa dan merasuk ke dalam DNA. Ingin rasanya bersama kekasihku lagi. Tapi apa daya finansial belum bisa. Jadi ya nanti saja.

Tapi aku bersyukur mengenal Vivi, menjadikannya pendamping di hidupku dan selalu memberikan support terbaiknya ketika aku dalam keadaan down ataupun up.

Terima kasih sayangku, kita harus sama-sama terus ya. Aku sayang kamu ❤️

Dapatkan bacotan yg lebih rutin dari bensin kendaraan kamu

atau

Kirimkan sebuah pesan. Untuk subjek, isi saja semau kamu

Jangan lupa kudos, agar

 
1
Kudos
 
1
Kudos

Now read this

Manajemen waktu? Apa itu? Tidur aja la

Saya yakin kalian yg baca ini salah satu atau semuanya mungkin pernah melalui fase ini atau bahkan sampai sekarang pun tetap di fase ini. Ya, alasannya ya macam-macam, mulai dari males sampai dengan terlalu sibuk untuk mengurusi hal... Continue →