Polisi Jujur

Monolegend Des 12, 2020

Perkenalkan namaku Ines Yanama. Gadis 21 tahun berdarah Indonesia-Jepang. Teman-teman memanggilku dengan sebutan “Iya”. Baiklah kalau begitu.

Aku akan menceritakan pengalamanku bertemu dengan satu-satunya polisi yang paling jujur di negeri ini. Nama lengkap beliau adalah Pungawan Listianto, biasa dipanggil pak Pung. Ingat, pak Pung, gak pake nama singkatan belakang, seperti namaku, Iya.

Cerita ini terjadi sekitar 3 hari yang lalu. Saat itu aku sedang berkendara menggunakan sepeda motor menuju kampus tempatku belajar. Karena jarak yang dekat dengan kosanku dan kebetulan saat itu aku juga tergesa-gesa. Kuputuskan untuk pergi tanpa menggunakan helm.

Berbekal rasa nekat dan juga percaya diri. Aku langsung berangkat seketika. Setelah 5 menit berkendara, kemudian lampu merah sedang menyala waktu itu, tanda aku harus berhenti. Sebelumnya dari jarak 30 meter, aku melihat sesosok Polisi berdiri di dekat lampu merah.

Segera aku memperlambat laju sepeda motorku. Dengan harapan nantinya gak perlu berhenti. Dan berharap Polisi tersebut tidak melihatku. Sialnya waktu itu jalanan sedang sepi-sepinya.

Dan bisa ditebak, aku berhenti pas di samping pak Polisi yang sedang bekerja. Mengendarai kuda supaya baik jalannya hei! Siapa yang nyuruh nyanyi tadi?

Dan benar saja, Polisi itu langsung menyapaku. Dengan cepat beliau mengajakku untuk masuk ke dalam pos penjagaan. “Ah goblok makin telat kan jadinya, harusnya bawa helm tadi. Iya… Iya,” gumamku dalam hati sembari memarkirkan motor di depan pos Polisi.

Sesampainya di dalam pos, akupun terkaget. Bukan apa-apa, melainkan aku disuguhi teh anget dan juga donat rasa keju. Ditanyai siapa namaku dan mau kemana. Ku jawab dengan lugas, tidak bertele-tele, dan juga dengan perasaan kesal pastinya.

Tak lupa beliau juga memperkenalkan diri dengan ramah penuh senyum. Pak Pung bertanya padaku apa pelanggaran yang sudah kuperbuat barusan. “Pasti karena saya lupa gak pake sepatu roda ya pak,” jawabku dengan nada bercanda dan ekspresi wajah yang tidak terlalu nyengir.

“Iya benar, benar-benar kurang ajar kamu”, sahut pak Pung sembari menulis informasi pada surat tilang berwarna merah. Setelah selesai menulis, segera pak Pung memberikan kertas tilang merah itu kepadaku. Kubaca dari atas sampai bawah, tidak ada keterangan yang menjelaskan bahwa pelanggaranku kali ini karena tidak mengenakan helm.

Tertulis bahwa pelanggaranku disebabkan lampu motorku yang mati. “Kenapa kok pelanggaran yang gak pake helm gak ditulis juga pak?” Tanyaku dengan santai. “Kan helm buat melindungi kepala dan isinya, kalo isi kepala tidak dipake, berarti tidak ada hal penting untuk dilindungi dong?” Sahut pak Pung kepadaku sembari menyalakan korek dan segera menghisap rokok kreteknya.

Segera setelah aku tahu apa pelanggaranku. Aku pergi meninggalkan pos Polisi dengan senyum lebar sembari memberikan 3 surat warna merah ke pak Pung. “Iya, kembaliannya ketinggalan nih”, sapa pak Pung memanggilku yang akan segera meninggalkan pos Polisi. Dengan segera kuambil sebuah surat warna biru kembalian dari pak Pung.

“Jujur juga nih Polisi, kembaliannya dibalikin. Lumayan kan buat jajan es kopi gaul pake toping boba”, ucapku dalam hati sembari melewati lampu merah dengan perasaan suka dan duka.

Royyan Wijaya

Tidurnya siang.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.