Petir Di Hari Yang Cerah

Kon Ikulo Lapose Jul 23, 2020

Pagi itu aku duduk terdiam menikmati bubur kacang hijau yang sudah ku beli barusan di persimpangan jalan menuju ke perbukitan. Setelah sekian lama tidak bangun pagi dan berolahraga, akhirnya kali ini aku bisa memaksa diriku untuk ya setidaknya berjalan-jalan di sekitar bukit pedesaan ini. Ya maklum, kesini pun juga tidak setiap hari. Setahun empat kali pun terbilang cukup banyak. Karena itulah, aku sangat menikmati suasana di sini. Udara yang sejuk beserta anginnya yang segar. Sebuah suasana yang tidak ku temui ketika aku berada di kota.

Oiya, aku lupa belum memperkenalkan diri. Namaku Solasi, lahir 27 tahun yang lalu. Berat badan lupa, tinggi badan ya mungkin sekitar 170-173 an. Nama panjangku adalah Sosching Lackani Sijguphinto. Susah bukan? Aku sendiri pun tak hapal. Apalagi kedua orang tuaku. Ketika umurku 4 tahun, nenekku lah yang mengusulkan untuk memanggilku dengan sebutan Solasi. Ya kalau kalian baca lagi, itu merupakan 2 huruf pertama di setiap nama panjangku. Berbicara tentang nama yang begitu rumit, tak jarang aku menemui berbagai macam kesulitan, tetapi juga ada beberapa hal yang menguntungkan ku. Kesulitan memiliki nama susah adalah ketika absensi kelas dimulai, atau ketika tiba ritual 10 tahun sekali yang bernama sensus penduduk. Selain itu, memasukkan informasi data pribadi di sebuah laman situs juga merupakan salah satu hal yang membuatku tersiksa. Membuka KTP merupakan aktifitas wajib ketika harus mengisinya. Hal baiknya adalah ketika ada orang yang berniat buruk terhadapku, setidaknya mereka harus memiliki ingatan yang cukup kuat untuk mencari identitasku. Kelebihan lain aku ceritakan nanti, kalau ingat. Sekarang kembali ke pagiku yang cerah.

Lanjut saja aku waktu itu langsung menuju bukit yang tak jauh dari rumah kakekku. Jaraknya sekitar 10 menit dan pemandangan menuju kesana pun sangatlah indah. Menyegarkan mata sekali lah pokoknya. Kiri-kanan ku lihat saja, banyak sarang mafia. Terima kasih sudah ikut bernyanyi bersama.

Sampailah aku di sini, di bukit yang tingginya tentu saja aku tak tau berapa. Memangnya aku kesini mau mengukur tinggi bukit apa? Enak saja, aku kesini mau mencari sinyal, sekalian menikmati pemandangan dan udara yang begitu tentram. Duduklah aku di sana, bersantai sembari membuka laman Twitter. Tertawa dan terkadang sedikit jengkel juga dengan beranda yang sedang asyik ku scroll menggunakan tangan kiri pagi itu. Tak terasa sudah setengah jam lebih aku di sana, sekitar pukul 6:40 pagi. Aku pun berlanjut berjalan-jalan ke dalam gatau apa ini namanya? Hutan tapi tidak sehutan itu, taman tapi pohonnya tinggi-tinggi. Ya itulah pokoknya. Berjalan pelan sembari mendengarkan irama Moonlight Sonata, 3rd Movement dari buyut Beethoven. Sebuah irama yang pas untuk menikmati pagi hari dengan segala semangat yang sudah terkumpul.

Sekitar sepuluh menit kemudian, sampailah aku di sebuah sungai. Airnya sangat segar dan juga jernih. Banyak bebatuan dan juga lumut di atasnya. Ada air terjun kecilnya juga, tapi bukan di ngarai yang aku jajaki saat ini. Kenapa aku hapal? Karena dulu ketika kecil sering bermain air di sini. Belajar renang seperti anak kodok yang baru menetas bersama teman-teman masa kecilku yang sekarang kebanyakan dari mereka sudah sibuk dengan dunianya masing-masing. Kecuali beberapa yang sampai saat ini masih saling bertukar pesan denganku melalui aplikasi pesan daring bernama Telegram. Maringe, Dilukas, dan Mairu, mereka lah orang-orangnya, nanti akan kuceritakan satu-persatu mengenai pertemanan kami.

Duduklah aku di batu besar dekat depan pepohonan sembari memainkan kakiku di atas air sungai yang dingin. Kunyalakan rokok lintingan yang memang sengaja ku bawa dari rumah untuk bersantai di sini.

"Ahh, betapa indah dan segarnya suasana saat ini, andai saja ada para Lumpur (nama panggilan geng kami) di sini tentu akan lebih seru"

Sekitar 15 menit lamanya aku bersantai. Tiba-tiba, terlihat percikan cahaya yang sangat terang dari balik pepohonan yang jaraknya sekitar 20 meter dari tempat dudukku. Bak petir dari tangan kanan Zeus, cahaya itu sangat cepat. Ya namanya juga cahaya, kalau lemot namanya pemerintah, hehe. Karena aku tipe orang yang penasaran, tentu saja langsung aku bergegas berjalan ke arahnya sembari memakai sandal dan topi hitam kesayanganku.

Terdengar suara berisik dari balik semak-semak, dengan sedikit rasa was-was, aku pun menghampirinya. Hampir saja ku terkaget dibuatnya, ternyata cuman seekor celeng yang terkena jebakan warga.

"Oala blok, ngaget-ngageti ae raimu (Oala blok, mengagetkan saja kamu itu)", gumamku saat melihat celeng hitam itu berteriak secara insecure.

Tak lama berselang, tiba-tiba dari jarak 5 meter, terlihat seorang wanita yang nampak normal saja. Tetapi darimana ia datang? Toh aku daritadi di sini juga. Apa mungkin wanita itu datang dari percikan cahaya barusan? Aku akan segera bertanya padanya tentang rumus Aljabar yang dari dulu kubenci itu. Enggak, maksudku aku akan bertanya tentang informasi pada umumnya tentu saja.

Royyan Wijaya

Tidurnya siang.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.