Pagi adalah saat di mana matahari bersinar dan semangat dibagi menjadi tiga

photo-1572076679526-4ca3eeab1e75.jpg

Sekitar pukul 6 pagi, terbangun dari tidur untuk mematikan alarm yg nantinya akan berbunyi lagi di jam 7,8,9, dan 9:15. Dan itu adalah waktu terakhir untukku agar bisa terbangun dari kasur yg sudah sejak malam hari. Memang tak dipungkiri bahwa aku memasang alarm di tiap jam hanya untuk memastikan nantinya aku tidak terkaget ketika aku bangun di pukul 9:15 pagi.

Saat itu juga, ketika aku terbangun, langsung melihat notif smartphone yg berada tepat di sampingku. Notif pertama yg kubuka tentu saja dari pacarku, Vivi. Selanjutnya, notif grup dari teman-teman jahanamku. Lalu, di susul melihat sebagian notif email yg masuk. Barulah setelah itu, aku mulai melakukan aktifitas manusia modern pada umumnya, yaitu mandi.

Mandi adalah salah satu ritual di mana menghilangkan belek yg ada di mata beserta pikiran malas yg bersarang di dalam kepala. Sikat gigi pun tak luput membantuku menyegarkan mulut dari iler yg selama kurang lebih 8 jam aku simpan di dalam mulut. Setelahnya, barulah sesi sarapan dimulai.

Sesi sarapan mengajarkanku bahwa, makan di pagi hari sangatlah enak, terlebih ketika bangun tidur yg mana kekurangan energi untuk nantinya beraktifitas. Tak lupa, aku selalu memfoto apa yg kumakan waktu itu dan memamerkannya ke Vivi dan teman-temanku. Setelahnya, barulah memulai semangat yg tadinya belom ada ketika pertama kali membuka mata.

Seperti judul yg aku tuliskan di atas, semangat yg ku alami biasanya dibagi menjadi tiga, konsisten setiap harinya. Semangat untuk memulai, semangat untuk menjalani aktifitas, dan semangat untuk mengakhirinya.

Semangat pertama, semangat untuk memulai. Di mana aku sedang segar-segarnya dan ingin melakukan suatu hal, terutama untuk pekerjaanku. Dimulai dari membaca referensi, memutuskan konsep, hingga menggeser-geser objek pada aplikasi design yg kumainkan saat itu. Tak jarang semangat ini berdampak terhadap antusiasku dalam membaca kala itu. Karena ya memang nuansa di pagi hari sangat nikmat untuk digunakan membaca, meski cuman 2-3 paragraf yg ada pada satu laman artikel.

Semangat selanjutnya adalah semangat menjalani aktifitas. Tentu saja, aktifitas pertama yg dilakukan adalah scroll timeline sosmed. Ralat, maksudnya Twitter. Ya benar, tak jarang dan sering sekali menjadi konsistensi lebih konsisten dari mengambil air wudhu. Membuka Twitter di pagihari merupakan aktifitas yg kiranya akan memakan banyak waktu kurang lebih kalo dikumpulkan, durasinya lebih lama dari waktu tunggu pembuatan E-KTP. Tidak pernah ada habisnya, makanya saya alokasikan scrolling timeline di urutan pertama pada semangat nomer dua ini. Supaya selanjutnya, saya bisa menggunakan energi positif semangat membara-bara ini pada pekerjaan saya.

Yg ketiga adalah tentu saja semangat untuk mengakhirinya, ketika jam sore pukul kurang lebih 1 jam sebelum jam kerja berakhir. Semangat ini muncul, sesegera mungkin ingin menyudahi hal-hal yg berkaitan dengan pekerjaan. Menggantinya dengan hal lain yg bisa dikatakan hal tersebut adalah bermalas-malasan. Bisa dengan nonton video di Youtube, scroll Twitter, atau chat Vivi. Untuk poin nomer 3, maaf, hanya berlaku buat saya hehe.

Jadi, begitulah kira-kira 3 tipe semangat yg saya miliki setiap harinya. Karena ketika malam tiba, semangat itu udah berkembang biak menjadi bermacam-macam semangat, mulai dari kasmaran hingga semangat ingin memenangkan pertandingan ketika bermain Dota.

 
3
Kudos
 
3
Kudos

Now read this

Pertarungan abadi Martabak Manis vs Terang Bulan

Tidak tau kapan dan tahun berapa perselisihan di antara kedua kubu ini dimulai. Entah sejak jaman Genghis Khan masih dikejar-kejar oleh Targutai atau baru dimulai semenjak Wright bersaudara berhasil menerbangkan pesawat pertama mereka?... Continue →