Hari ketiga-Sebuah Ingatan

30 Days Writing Challenge Sep 16, 2020

Bicara tentang ingatan, mereka bilang sebuah ingatan mampu menceritakan bermacam-macam jalur dalam perjalanan manusia menuju ke jenjang yang lebih jauh dari hidupnya

Saya masih ingat mainan pertama saya yaitu sebuah robot-robot-an yang kurang lebih saya dapatkan ketika masih berumur 5-8 tahun kala itu. Mungkin sekitar di awal tahun 2000-an. Saat di mana menonton acara kartun di hari libur pagi merupakan salah satu starter pack wajib untuk anak di usia segitu. Doraemon, Chibi Maruko-Chan, Dragonball—hingga Crayon Shinchan.

Segala hal yang ada di tahun tersebut merupakan ingatan indah tersendiri bagi saya. Bermain bersama teman sepulang sekolah dengan hanya menggunakan kolor dan kaos kotang. Kemudian menjahili anjing tetangga dengan menggonggonginya—hingga berantem karena merebutkan layangan putus.

Saya juga masih ingat sekali saat pertama kalinya saya mencoba untuk membolos sekolah. Kala itu, saya menggunakan alasan seragam saya basah. Dan anehnya, saya pergi sendiri ke sekolah. Sekali lagi, menggunakan kaos kotang, tetapi kali ini saya memakai celana pendek beserta topi Tersanjung. Dengan percaya dirinya saya langsung masuk ke dalam kelas yang saat itu pelajaran baru dimulai.

"Bu, saya mau ijin gak masuk sekolah karena seragam saya basah", ucapku dengan muka percaya diri.

Dengan baik hatinya sang Ibu Guru mempersilahkan saya masuk.

"Yauda gapapa, sini masuk nak, belajar bareng teman-teman yang lain", ucap Ibu Guru dengan lembutnya.

Karena saya juga bingung mau menghindar menggunakan alasan apalagi. Alhasil, saya pun ikut pelajaran sekolah dengan hanya memakai kaos kotang dan celana pendek, beserta topi yang sangat gaul waktu itu.

Malu merupakan hal yang pasti, saya merasa malu karena mencoba membohongi satu kelas terlebih Ibu Guru yang baik sekali hatinya dan sedang mengajar saat itu. Malu karena di dalam kelas tidak menggunakan seragam dan tidak membawa peralatan tulis. Seketika, ketika jam istirahat berbunyi, saya langsung bilang ke teman saya untuk pergi pulang berganti seragam. Dan nyatanya saya tidak kembali lagi ke kelas hari itu. Sebuah kenangan yang sangat kurang ajar yang diciptakan oleh anak kelas satu SD hehe.

Ingatan lain ketika masa kecil yaitu saat pertama kalinya ke pom bensin. Waktu itu, saya masih ingat sekali ketika naik len alias angkot. Saat itu perjalanan menuju ke Pasar Kupang untuk membeli burung. Kebetulan, saat itu angkot sedang mengisi bensin. Dan bau bensin pertama kali yang kuhirup saat itu sangatlah berbeda. Seperti merasa enak tapi aneh juga. Itulah kenapa saat berada di pom bensin, saya merasa seperti berada di toko parfum. Untungnya, saat ini ketagihan bau bensin itu sudah hilang dan berganti menjadi ketagihan bau yang lain.

Semasa sekolah SD, kurang lebih ketika kelas 4-6. Saya selalu mendapat nilai yang sangat bagus dalam pelajaran Sejarah. Mengingat merupakan salah satu kemampuan yang bisa saya banggakan saat itu. Pernah ketika pelajaran IPS dan saat itu kebetulan setiap minggunya ada ujian mengingat nama-nama negara beserta ibukotanya di seluruh dunia. Tiap minggu satu benua dan seterusnya. Hingga di minggu terakhir ketika semua benua sudah diujikan. Saatnya ujian final, maju satu persatu. Dites pertanyaan sebuah nama negara acak dan kita ditanya apa nama ibukotanya, begitupun sebaliknya. Dan tentu saja, dengan rasa percaya diri yang sangat kuat. Saya mendapatkan nilai 100 di setiap minggunya. Dan ketika ujian final, nilai 100 sepertinya sudah menjadi teman terbaik saya kala itu. Dan akan selalu kuingat ia, hingga akhir nanti.

Akhir-akhir ini, ingatan yang selalu melekat dan terus menerus berjalan-jalan di atas kepala merupakan ingatan tentang jalan-jalan bersama kekasihku. Mulai dari Merak, Surabaya—hingga ke Bali. Indahnya kemesraan ini janganlah cepat berlalu. Tapi kali ini berbeda, saya tidak bisa langsung menuju ke Merak untuk menemui Vivi. Ya, tentu saja karena Corona yang menyebalkan ini. Tak kunjung habis, selalu konsisten bertambah, apa mau dia sebenarnya? Semoga, segera minggat lah virus dan berhenti sudah pandemi menjengkelkan ini agar saya bisa dengan segera menemui Vivi. Aigoo Kim Sajang.

Royyan Wijaya

Tidurnya siang.

Great! You've successfully subscribed.
Great! Next, complete checkout for full access.
Welcome back! You've successfully signed in.
Success! Your account is fully activated, you now have access to all content.